Senin, 02 April 2012

cerpen spirit

 
TUHANKU SANDARANKU



Pagi itu Hanifah sedang menyiapkan sarapan untuk suami tercintanya, Sandi, karena sebentar lagi ia akan berangkat kerja. Sementara itu, anaknya, Susi,  yang masih berumur 1 tahun, sedang bersama ayahnya.
Menjelang pukul 7 pagi, tiba-tiba langit berubah jadi gelap. Angin kencang muncul menambah angker suasana.
“Bang, hujan turun lebat sekali, mana ada angin kencang lagi. Tunggu saja sampai hujannya reda dan anginnya lenyap, ya?” Hanifah memberikan saran kepada suaminya dengan tatapan penuh sayang.
“Ia, Sayang. Abang akan tunggu sampai berhenti. Tapi jika sampai jam 7.30 belum juga reda, maka abang harus pergi juga, karena hari ini ada tugas penting sekali,” Sandi menatap keluar rumah, mengamati suasana yang masih tampak mencekam. Sementara itu, Susi, masih betah dalam pangkuannya.
Pukul 7.30, hujan masih tetap deras, gemuruh angin masih menjadi-jadi.
“Han, tolong siapkan jas hujan, aku mau berangkat ,” Sandi mengambil motornya dan siap-siap untuk pergi.
“Jangan, Bang! Jangan nekad!” Hanifah kelihatan khawatir. Ia nampak cemas.
“Sudahlah, nggak usah khawatir seperti itu, percayalah, semua akan baik-baik saja,” Sandi berusaha menenangkan istrinya sambil menyerahkan Susi yang tiba-tiba menangis karena tak mau berpisah dengannya.
“Assalamu’alaikum, Sayang, aku berangkat dulu,” Sandi bersama Revo biru tuanya bergerak perlahan meninggalkan pekarangan rumah.
“Wa’alaikumussalam,” tatapan Hanifah yang penuh kekhawatiran mengantarkan suaminya sampai lenyap tak terlihat lagi.
Pukul 9 pagi, angin telah berlalu, namun hujan masih deras mengguyur kota Surabaya. Sementara itu Hanifah sedang mencuci pakaian. Adapun anaknya diasuh oleh saudaranya. Menjelang pukul 10 siang, hanifah mencoba mengontak hape Sandi, namun tak ada jawaban, padahal hapenya aktif.
Pukul 11 siang, hape Hanifah berdering. Ia lalu mengangkatnya dan menjawab salam sang penelepon.
“Han, bisa ke rumah sakit sekarang?” tanya sang penelepon.
“Ada apa, Wan?” Hanifah balik bertanya dengan perasaan tak menentu.
“Pokoknya datang dulu deh. Ditunggu ya,” balas sang penelepon sambil menyebutkan tempat rumah sakitnya.
Dengan membawa Susi, Hanifah berangkat menuju rumah sakit setelah menitipkan rumahnya kepada saudaranya. Hatinya makin tak menentu. Ia khawatir, jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan suaminya.
Ketika telah tiba di rumah sakit yang dituju, Hanifah langsung menuju ruang gawat darurat sesuai permintaan Irwan, temannya Sandi. Irwan menghampirinya dengan tenang walau wajah Irwan tampak sedih,”Han, jangan panik ya, tenangkan dirimu.”
Hanifah melangkah perlahan menuju sebuah tempat pembaringan yang di atasnya tergeletak sesosok tubuh yang masih pingsan. Setelah mendekat, iapun menangis sambil tetap mendekap anaknya.
“Apa yang terjadi dengan suamiku, Wan?” hanifah menatap Irwan dengan wajah basah oleh air mata.
“Tabrakan dengan Avanza,” suara Irwan terdengar jelas namun berat, ia menunduk sambil menarik napas dalam-dalam. “ketika aku melihat suamimu, aku langsung membawanya ke sini. Adapun motornya aku titipkan kepada Budi.”
Mendengar itu tangisan Hanifah makin kuat dan tubuhnya terasa makin lunglai. Ia sangat takut kehilangan suaminya, karena Sandi adalah sosok suami yang sangat baik. Ia adalah sosok manusia yang sangat perhatian, penyayang, cerdas, peduli dengan penderitaan orang lain. Sandi itu orangnya penyabar, tenang, lembut, namun tegas dan pemberani. 
Pukul 11.30 Sandi belum juga siuman. Irwan menatapnya sambil berbisik,” Ya Allah, selamatkanlah kawanku,” Irwan menatap wajah Sandi, ia tak kuat membendung air matanya yang sejak tadi ia tahan.
Pikiran Irwan kembali menerawang ke belakang, ia teringat kembali akan kebaikan Sandi kepadanya. Irwan mengingat kembali akan peristiwa yang menyakitkan hatinya, ketika 3 hari menjelang pernikahan, calon istrinya memutuskannya tanpa sebab yang masuk akal. Karena itulah jiwanya jadi goncang. “Wan, wanita penghianat tak usah dipikirkan terus. Udah sebulan kamu depresi. Lihat badanmu, tambah kurus, Wan. Udahlah kawan, bangkitlah, masa depan tetap cerah.”
“Aku benar-benar terpukul, San. Lukaku begitu parah,” ungkap Irwan seperti prustasi berat.
“Oke-oke, aku mengerti. Insya Allah nanti aku carikan yang lebih baik,” Sandi menawarkan bantuan untuk menyemangati sahabatnya yang dilanda badai yang sangat dasyat.
Kini Irwan telah punya istri yang baik hati karena bantuan Sandi. Luka jiwanya telah sembuh. Kembali Irwan menatap wajah Sandi. Tiba-tiba mata Sandi mulai terbuka perlahan. Irwan dan Hanifah kelihatan punya energi harapan baru. Mereka berdua mendekati Sandi. Kepala Sandi penuh balutan karena cedera. Juga kaki kanannya, karena retak tulang pahanya.
“Syukurlah Abang sudah siuman,” Hanifah mengelus wajah suaminya yang masih tampak lesu. Walaupun begitu, Sandi tampak tersenyum kepada istri tercintanya juga kepada kawannya walaupun ia masih tampak lemah.
“Tenanglah Sayang, Abang akan baik-baik saja. Tak usah kau gelisah. Allah bersamaku,” wajah Sandi tetap bersinar dengan senyuman yang menyiratkan semangat hidup. Ia tak mengeluh selain sedikit meringis. Mungkin rasa sakitnya masih kuat. Ia tersenyum menatap wajah anaknya yang polos.
“San, kamu memang tegar. Karena itu aku tak mau kehilanganmu. Aku ingin sepertimu dalam menghadapi hidup ini. Kau tak mengeluh kayak aku padahal keadaanmu sekarang benar-benar kritis,” Irwan menunduk, ia masih menitikkan air mata. Mungkin ia malu dengan keadaan jiwanya. Bagi Irwan, Sandi adalah manusia mengagumkan yang langka. Selama hidupnya, jarang ia temukan orang mengagumkan seperti Sandi.
Tiba-tiba datanglah seorang lelaki berdasi menghampiri mereka bertiga.
“Bagaimana keadaanmu, San?”tanya lelaki itu.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Pak Adi,” Sandi tetap tenang dan keep smiling.
“Bagus, kalau begitu, San,” lama juga Pak Adi berada di tempat itu. Setelah itu, Pak Adi dan Irwan pamitan untuk kembali melaksanakan tugas.
Kini tinggallah Hanifah, Sandi dan Susi. Tiba-tiba perawat datang. Mungkin akan memeriksa kondisi Sandi. Setelah itu sang perawat pergi lagi.
“Hanny Sayang, jangan menangis terus dong,” Sandi menggerakkan tangan kanannya, lalu menghapus air mata istrinya dengan sapu tangan merah milik istrinya.”Ayolah tersenyum, Sayang. Abang masih hidup kok. Semua akan baik-baik saja. Allah akan menolong kita. Jangan larut bersedih ya,” Sandi tersenyum kepada istrinya. Rupanya ia tak mau melihat istrinya terus bersedih. Memang luar biasa jiwanya. Seharusnya orang sehatlah yang berusaha menghibur orang sakit. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Orang sakitlah yang berusaha menghibur orang sehat. Badan Sandi memang sakit, tapi tidak dengan jiwanya.
“Ya Sayang, aku tak akan nangis terus,” kini, giliran Hanifah yang tersenyum. Air matanya mulai reda.
“Hanny, tolong bacakan Al-Qur’an untukku. Aku rindu mendengarnya,” pinta Sandi pada istrinya.
Hanifah membuka tasnya, lalu mengambil Al-Qur’an. Terus iapun mulai membaca Al-Qur’an dengan baik. Ketika mendengar ayat-ayat itu, Sandi tampak berlinang air mata. Lalu tertidurlah ia. Hanny kaget. Ia panik lalu memanggil perawat.
“Bu, suami ibu hanya tertidur. Tenang saja, Bu. Suami ibu akan membaik kok,” sang perawat tersenyum dan berusaha menenangkan Hanifah.
Setelah lewat 1 jam, Sandi terbangun.” Han, aku bermimpi.”
“Mimpi apa, Bang?” Hanifah bertanya penuh rasa penasaran.
“Aku diruqyah orang berbaju putih. Wajahnya penuh cahaya sangat terang. Ia mengaku sebagai Rosulullah,” Sandi termenung. Namun ia kelihatan bahagia.[1]
“Berbahagialah Abang jika sudah ketemu Nabi dalam mimpi,” Hanifah kaget campur gembira.
Setelah 1 minggu di rumah sakit, Sandi sudah boleh pulang. Waktu yang sangat cepat bagi Sandi untuk proses penyembuhan. Padahal ia kelihatan parah ketika di awal-awal. Mungkin ada keajaiban? Why not? Tak ada yang mustahil bagi Allah.
“Bang, apa saja yang dibaca Nabi ketika beliau meruqyahmu?” Hanifah tampaknya penasaran dengan mimpi suaminya.
“Bacaannya, aku sangat kenal. Ada di dalam hadist.” Lalu Sandi menyebutkan bacaannya dengan fasih karena ia pandai membaca Al-Qur’an.
“Kenapa Abang tak mengeluh dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja,” kembali Hanifah meneruskan pertanyaan.
“Mengeluh takkan membuat sakitku sembuh, tak mampu menenangkan jiwa. Aku serahkan semuanya kepada Allah. Aku baik sangka saja kepada-Nya. Jadi aku yakin, semua akan baik-baik saja. Ketika hatiku yakin akan kasih sayang Allah, jiwaku diliputi rasa damai. Alhamdulillah, hati terasa lapang dan tenang. Bukankah Penguasa Mutlak hati manusia hanyalah Allah?” Sandi menatap  wajah Hanifah dengan penuh keyakinan akan kasih sayang Tuhannya.
“Iya, Bang. Benar. Aku masih harus banyak belajar kepada Abangku tersayang,” Hanifah tersenyum dan memeluk suaminya.
Pagi itu suasana terasa indah sekali. Terdengar nyanyian alam mengalun merdu. Kicauan burung bersahutan di atas ranting-ranting pohon. Angin bertiup sepoi-sepoi manja mengelus dedaunan. Mentari tersenyum lebar di pagi itu. Sang Langit wajahnya cerah bersinar memancarkan cahaya birunya yang teduh dan megah. Lihatlah wahai kawan, betapa indah dan sempurna ciptaan YANG MAHA SEMPURNA.
Sekian dulu sahabat-sahabatku. Terima kasih.     


Oleh : Deni Abdullatif
http://sinarbuku77.blogspot.com 









  




[1] ruqyah adalah metode pengobatan dengan memakai ayat-ayat  al-Qur’an atau kalimat yang diajarkan Nabi

Tidak ada komentar: